Chatuncha
Jangan Pernah Berpikir Untuk Pamrih Dulu, Yang Penting Raih Dulu
Jumat, 20 November 2015
Kamis, 15 Oktober 2015
Jatuh Hati...
Sudah lama. Kamu masih tetap sama.
Berada di tempat yang sama. Dan akan tetap bertahan lama.
Aku tak menahanmu. Aku juga tak ingin melepasmu.
Yang aku tahu, Aku tak harus memilikimu saat ini.
Tapi bolehkah aku selalu didekatmu?
Karena ini bukan perihal jatuh cinta.
Namun aku tlah jatuh hati.
Jatuh hati berkali-kali dengan orang yang sama.
Kamu.
Sabtu, 01 November 2014
Mencampuri...
Beginilah hidup. Seperti itulah kehidupan. Ada yang membuat
nyaman, ada yang menyulitkan.
Aku yakin kehidupanmu penuh dengan pahit manis. Aku bahkan
bisa merasakan kehidupanmu ketika aku mencoba dan menyadari hidup adalah
begini.
Walaupun terkadang aku mencoba mengubah diri menjadi yang
terlihat, aku akan kembali ke posisi awalku. Terkadang aku ingin konsisten
dengan posisi itu,tapi aku tiba-tiba menjadi terlihat kembali. Sesaat aku
berpikir, apa aku memang memiliki dua kepribadian?
Ataukah ini hanya mood yang dengan mudahnya berubah?
Aku tak terbiasa peduli selain dengan kamu. Aku tak biasa
mencampuri urusan orang lain, karena aku tak ingin egois. Aku bahkan tak ingin
ada yang sibuk dengan urusanku, makanya aku tak peduli dengan urusan orang
lain. Bukankah itu dikatakan tak egois? Iyakan? Atau dengan begitu aku malah jadi
terlihat egois?
Kembali ke cerita awal. Tentang sebuah pilihan. Setiap
makhluk punya itu. Bahkan binatang pun punya pilihan untuk bertahan dan
mempertahankan.
Tak ada tempatku untuk berbagi. Aku tak memiliki yang ‘aku
percayai’. Itu sulit kan?
Kamu tahu, bahkan seseorang yang hampir terlihat berkesan
baik menjadi seperti musuh dimataku.
Seolah dia dengan gampangnya ikut campur. Padahal aku tak
pernah ikut campur urusannya. Haruskah hidup ini dikatakan kehidupan dengan
kita mencampuri urusan orang lain?
Aku akan belajar. Untuk konsisten. Karena itu pertahananku.
Jika
tidak, akan ada banyak topeng yang bermunculan.
Dan itu hanya akan menjadi
pengganggu dan sia-sia.
Senin, 20 Oktober 2014
Menanti...
“Maafkan jika kau
kusayangi..
Dan bila ku menanti”
Waktu terus berlalu..
membawaku terus ikut berlalu bersama penantianku..
Berandai-andai itu tak baik.
Aku tahu itu melelahkan.
Setiap orang butuh
kepastian. Karena aku tahu,, Itu yang lebih baik.
Aku pun demikian. Menanti
sebuah jawaban akan satu kepastian. Bukan karena aku tak mampu bertindak, tapi
aku berkeyakinan bahwa inilah tindakanku.
Bukan karena aku tak takut,
aku bahkan lebih takut dari apa yang orang pikirkan.
Bukan karena aku tak
berpikir. Tapi karena aku percaya, kamu itu ada.
Aku bahkan mulai terlatih.
Terlatih menanti. Kamu pasti mengerti, menunggu dan menanti itu sama tapi
berbeda maknanya. Sebab itu kamu pasti mengerti, jika kukatakan menanti, kamu
tau bagaimana lelahnya.
Tapi bukan lelah itu yang
ingin aku pamerkan. Aku hanya ingin kamu tersadar dan bertindak. Agar aku juga
bisa membuat kesimpulan.
“Pernahkah engkau coba
mengerti
Lihatlah ku disini
Mungkinkah jika aku bermimpi
Salahkah tuk menanti..”
Aku bahkan terlatih untuk
tak peduli dengan argumen orang lain. Karena sebenarnya aku juga takut untuk
membayangkannya.
Apakah semua yang aku
nantikan selama ini akan sia-sia?
Pertanyaan itu hanya sang
pemegang jawabannya lah yang bisa menjawab. Karena aku disni hanya bisa
menunggu , berharap, berdoa dan berusaha yang terbaik.
“Takkan lelah aku menanti…
Takkan hilang cintaku ini…”
Apa kamu pikir aku tak
cemas? Aku hanya bermodal keberanian dengan senyum dibalik ragu yang
bercereran.
Tak ada satu katapun yang
tertulis dari dunia mayamu
Namun aku akan terus
berusaha menyadari bahwa semua karena kesibukanmu
“Hingga saat kau tak kembali
Kan kukenang dihati saja…”
Dan aku tersadar bahwa aku
hanyalah seorang pengganggu yang selalu menunggu
Ku akan tetap menanti sebuah
pilihan yang hadir pada dirimu
Sadarlah, tak baik
membiarkanku terus menunggu dengan berjalannya waktu
Karena aku pun punya waktu
untuk merasa jemu
Jemu terhadap diammu….
Rabu, 24 September 2014
Melemahkan...
Bukan hal yang baru lagi. Seperti
halnya dilemahkan,disinggung,dijatuhkan. Memang,tidak mengenai fisik. Tapi sakitnya
melebihi dari yang berbekas.
Awalnya perih. Sempat terlintas untuk menyerah.
Bahkan amarah ini ingin segera meluap. Ingin kuserahkan semua perih ini untuk kamu. Yang bahkan tak menyadari adanya aku sedetikpun. Begitu pikirku.
Tapi… mungkin ingin ini akan terus berpihak pada hati. Yang selalu mengajak untuk jangan menyerah. Semua akan indah pada waktunya.
Kalaupun tak sebanding, itu hanya sebuah resiko. Bukankah segala sesuatu memang ada resikonya? Kenapa harus menghakimi duluan?
Jangan beralasan. Itu hanya kata lain dari kepayahan karena takut berjuang dan menerima resiko yang tak diinginkan. Bukankah itu payah?
Aku lelah berandai-andai. Aku tak ingin menjadi payah. Aku tak ingin takut dengan sia-sia atau apapun namanya resiko itu. Aku malah ingin melawan resiko itu.
Terserahlah.
Toh aku yang berjuang, bukan mereka. Toh aku tak hidup sebab omongan mereka.
Bagiku pilihanku,bagi mereka pilihan mereka. Fix.
Tapi tahukah kamu? Aku sudah lelah.Kutegaskan lagi aku lelah berandai-andai.
Jika kukatakan "biarlah kita saja yang berjuang”. Sesungguhnya aku juga takut “kita” itu berartikan hanya “aku” saja yang berjuang.
Bukankah kamu ingin di-support? Ingin dibantu? Ingin didorong?
Lakukanlah hal yang sama untukku.
Jika kamu tulus.
Kamis, 11 September 2014
Bagiku,Yakinku...
Sering membuat menunggu.
Sering mendadak menghilang. Sering membuat bekas. Sering menimbulkan banyak
pertanyaan.
Terkadang hadirkan
penasaran. Terkadang ciptakan kepedulian. Terkadang mendukung. Terkadang
bersembunyi. Terkadang lari tanpa peduli.
Namanya… “kamu”.
Jari jariku terus
menghasilkan tulisan tulisan ini. Yang kutulis untuk kamu.
Bukan sesuatu yang asing
lagi. Dan ku akui aku telah terbiasa dengan semua kebiasaanmu. Karena aku telah
terbiasa dengan semua kegemaranmu. Aku mengenalmu. Mungkin lebih dari dirimu
sendiri. Tapi sisi mana yang aku kenali?
Kamu itu membingungkan. Kamu
itu terlihat abu-abu dimataku. Terkadang kamu meyakinkan,terkadang kamu
meragukan. Aku mendengar dari banyak orang. Tentang hal yang seperti kita. Sama
seperti abu-abu itu. Terkadang mereka mendukung,tapi terkadang mereka
menjatuhkan. Padahal mereka hanya bacot. Mereka tak pernah berani menjalaninya
langsung. Mereka hanya tahu berkomentar seakan mereka pernah mengalaminya. Bukankah
jika kita tak mencoba,kita tidak akan pernah tahu hasilnya? Walau mungkin
presentasenya rendah. Kenapa harus mengatakan sia-sia? Kenapa harus berusaha
dan tetap berjuang? Kenapa harus mengikuti mereka dan kenapa harus mengikuti
kata hati sendiri.
Kamu saja tak yakin. Kenapa
aku harus berkeras kepala untuk tetap yakin? Kalau hanya sepihak,apa bisa
dikatakan bersama?
Sepakat untuk yakin dan
tidak ada yang berkhianat, kita pasti bisa jadi sepaket. Bisa bersama.
Jangan dengarkan komentar
mereka. Mereka tak tahu apa-apa. Mereka bukan tokoh utama yang ada dicerita
kita. Mereka tokoh utama dicerita mereka sendiri. Mereka adalah hidup dan
pilihan mereka. Dan kita adalah hidup dan pilihan kita. Hanya ikuti apa yang
telah diyakini. Bagi kita adalah kita. Bagi mereka adalah mereka. Tak perlu
repot saling mencampuri. Tak penting.
kamu tahu apa yang aku
maksud. Kamu tahu apa yang aku yakini. Kamu tahu apa yang aku inginkan. Dan
kamu tahu apa yang aku harapkan. Bahkan aku mengira kamu lebih mengetahui
diriku.
Waktu lamanya tak penting.
Tidur saja jika hanya 2 jam ataupun lebih itu tak menjamin kesehatan,yang
penting kualitas tidurnya. Sama seperti kita. Waktu yang sebentar itu tak
menjamin kelancaran kita. Yang penting segala hal dan kenangan yang berharga
saat bersama itu.
Toh,ini adalah pilihan. Setiap
orang punya hak memilih dan menjatuhkan pilihan.
Jadi,yakinlah kamu.
Jumat, 22 Agustus 2014
Hal baru...
Semester baru dimulai lagi. Hari-hari yang baru dengan mata kuliah yang baru untukku juga akan dimulai. Aku berusaha menjalani semuanya. Nantinya. Dengan harapan aku akan selalu diberi kemudahan dalam setiap langkahku,menuntut ilmu. Ada hal yang baru. Ada juga hal yang lama tapi baru mau dijalani kembali. Di tempat yang baru,tapi sebenarnya sudah berada lama disini. Tempat yang selalu ingin aku tinggali secepat mungkin agar aku bisa pergi meninggalkannya secepat mungkin. Jika aku keluar dari zona nyamanku ini,aku yakin akan ada banyak hal yang baru yang bisa aku dapatkan diluar sana. Tapi yaaaa,bagiku aku tak punya ketertarikan untuk hal itu. Mungkin aku telah lama jengah. Mungkin aku terlalu lama bertahan pada kejenuhanku. Walaupun baru,tapi semua itu tidak akan berlangsung lama. Semua yang baru akan menjadikanku kembali merasa jenuh. Apa hatiku juga jenuh? Ada hal yang tidak baru,tapi tak pernah membuatku jenuh. Andaipun jenuh itu hadir pada hal itu,jenuh itu tak akan bertahan lama. Dengan sendirinya,dia akan memperbarui hal itu. Yaitu kamu. Yang akan menjadi baru dan tak akan membuat jenuh. Sampai aku bisa menyampaikannya langsung ke kamu. Aku bukan penunggu rumah yang berhantu.Aku hanya penunggu hati seseorang yang mungkin telah beku. Bertahanlah..sejujurnya,dengan sendirinya hati ini akan tetap memperbarui kamu menjadi tetap kamu.
Langganan:
Postingan (Atom)
Jdilah pembicara dan pendengar yang baik :)