Bukan hal yang baru lagi. Seperti
halnya dilemahkan,disinggung,dijatuhkan. Memang,tidak mengenai fisik. Tapi sakitnya
melebihi dari yang berbekas.
Awalnya perih. Sempat terlintas untuk menyerah.
Bahkan amarah ini ingin segera meluap. Ingin kuserahkan semua perih ini untuk kamu. Yang bahkan tak menyadari adanya aku sedetikpun. Begitu pikirku.
Tapi… mungkin ingin ini akan terus berpihak pada hati. Yang selalu mengajak untuk jangan menyerah. Semua akan indah pada waktunya.
Kalaupun tak sebanding, itu hanya sebuah resiko. Bukankah segala sesuatu memang ada resikonya? Kenapa harus menghakimi duluan?
Jangan beralasan. Itu hanya kata lain dari kepayahan karena takut berjuang dan menerima resiko yang tak diinginkan. Bukankah itu payah?
Aku lelah berandai-andai. Aku tak ingin menjadi payah. Aku tak ingin takut dengan sia-sia atau apapun namanya resiko itu. Aku malah ingin melawan resiko itu.
Terserahlah.
Toh aku yang berjuang, bukan mereka. Toh aku tak hidup sebab omongan mereka.
Bagiku pilihanku,bagi mereka pilihan mereka. Fix.
Tapi tahukah kamu? Aku sudah lelah.Kutegaskan lagi aku lelah berandai-andai.
Jika kukatakan "biarlah kita saja yang berjuang”. Sesungguhnya aku juga takut “kita” itu berartikan hanya “aku” saja yang berjuang.
Bukankah kamu ingin di-support? Ingin dibantu? Ingin didorong?
Lakukanlah hal yang sama untukku.
Jika kamu tulus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar