Rabu, 24 September 2014

Melemahkan...

Bukan hal yang baru lagi. Seperti halnya dilemahkan,disinggung,dijatuhkan. Memang,tidak mengenai fisik. Tapi sakitnya melebihi dari yang berbekas.
Awalnya perih. 
Sempat terlintas untuk menyerah. 
Bahkan amarah ini ingin segera meluap. Ingin kuserahkan semua perih ini untuk kamu. Yang bahkan tak menyadari adanya aku sedetikpun. Begitu pikirku.
Tapi… mungkin ingin ini akan terus berpihak pada hati. Yang selalu mengajak untuk jangan menyerah. 
Semua akan indah pada waktunya. 
Kalaupun tak sebanding, itu hanya sebuah resiko. Bukankah segala sesuatu memang ada resikonya? Kenapa harus menghakimi duluan?
Jangan beralasan. Itu hanya kata lain dari kepayahan karena takut berjuang dan menerima resiko yang tak diinginkan. Bukankah itu payah?
Aku lelah berandai-andai. Aku tak ingin menjadi payah. Aku tak ingin takut dengan sia-sia atau apapun namanya resiko itu. Aku malah ingin melawan resiko itu.
Terserahlah.
Toh aku yang berjuang, bukan mereka. Toh aku tak hidup sebab omongan mereka.
Bagiku pilihanku,bagi mereka pilihan mereka. Fix.
Tapi tahukah kamu? Aku sudah lelah.Kutegaskan lagi aku lelah berandai-andai.
Jika kukatakan "biarlah kita saja yang berjuang”. Sesungguhnya aku juga takut “kita” itu berartikan hanya “aku” saja yang berjuang.
Bukankah kamu ingin di-support? Ingin dibantu? Ingin didorong?

Lakukanlah hal yang sama untukku. 
Jika kamu tulus. 

Kamis, 11 September 2014

Bagiku,Yakinku...

Sering membuat menunggu. Sering mendadak menghilang. Sering membuat bekas. Sering menimbulkan banyak pertanyaan.
Terkadang hadirkan penasaran. Terkadang ciptakan kepedulian. Terkadang mendukung. Terkadang bersembunyi. Terkadang lari tanpa peduli.
Namanya… “kamu”.
Jari jariku terus menghasilkan tulisan tulisan ini. Yang kutulis untuk kamu.
Bukan sesuatu yang asing lagi. Dan ku akui aku telah terbiasa dengan semua kebiasaanmu. Karena aku telah terbiasa dengan semua kegemaranmu. Aku mengenalmu. Mungkin lebih dari dirimu sendiri. Tapi sisi mana yang aku kenali?
Kamu itu membingungkan. Kamu itu terlihat abu-abu dimataku. Terkadang kamu meyakinkan,terkadang kamu meragukan. Aku mendengar dari banyak orang. Tentang hal yang seperti kita. Sama seperti abu-abu itu. Terkadang mereka mendukung,tapi terkadang mereka menjatuhkan. Padahal mereka hanya bacot. Mereka tak pernah berani menjalaninya langsung. Mereka hanya tahu berkomentar seakan mereka pernah mengalaminya. Bukankah jika kita tak mencoba,kita tidak akan pernah tahu hasilnya? Walau mungkin presentasenya rendah. Kenapa harus mengatakan sia-sia? Kenapa harus berusaha dan tetap berjuang? Kenapa harus mengikuti mereka dan kenapa harus mengikuti kata hati sendiri.
Kamu saja tak yakin. Kenapa aku harus berkeras kepala untuk tetap yakin? Kalau hanya sepihak,apa bisa dikatakan bersama?
Sepakat untuk yakin dan tidak ada yang berkhianat, kita pasti bisa jadi sepaket. Bisa bersama.
Jangan dengarkan komentar mereka. Mereka tak tahu apa-apa. Mereka bukan tokoh utama yang ada dicerita kita. Mereka tokoh utama dicerita mereka sendiri. Mereka adalah hidup dan pilihan mereka. Dan kita adalah hidup dan pilihan kita. Hanya ikuti apa yang telah diyakini. Bagi kita adalah kita. Bagi mereka adalah mereka. Tak perlu repot saling mencampuri. Tak penting.
kamu tahu apa yang aku maksud. Kamu tahu apa yang aku yakini. Kamu tahu apa yang aku inginkan. Dan kamu tahu apa yang aku harapkan. Bahkan aku mengira kamu lebih mengetahui diriku.
Waktu lamanya tak penting. Tidur saja jika hanya 2 jam ataupun lebih itu tak menjamin kesehatan,yang penting kualitas tidurnya. Sama seperti kita. Waktu yang sebentar itu tak menjamin kelancaran kita. Yang penting segala hal dan kenangan yang berharga saat bersama itu.
Toh,ini adalah pilihan. Setiap orang punya hak memilih dan menjatuhkan pilihan.

Jadi,yakinlah kamu.

Jdilah pembicara dan pendengar yang baik :)

Jdilah pembicara dan pendengar yang baik :)